Monday, July 6, 2015

Mengenang Sumba di Puncak Musim Panas

Saya mengenang kembali masa bertugas di Sumba Barat Daya selama setahun. Seru karena bisa ketemu banyak sahabat baru juga masyarakat dengan budaya megalitikum. Walau hidup tanpa kecukupan air dan listrik tapi saya akui waktu itu saya lebih produktif dalam hal menulis. Satu novel berkarakter anak-anak Sumba berhasil saya tulis secara manual dan baru disalin ketika bertemu komputer di kota. Bahkan beberapa tulisan di blog saya juga pecah telor ketika di Sumba.

Nah ini foto ketika saya pertama kali mencapai Sumba di puncak panas yang membuat tanah Sumba terbakar gersang.




Menyusuri daerah dengan kekurangan air dimana-mana ini membuat saya mensyukuri setiap tetes air yang sekarang mudah saya dapatkan. Pohon yang merindu air ini begitu merana namun mereka bertahan dengan caranya masing-masing.




Saya ingat pohon meranggas ini membawa ingatan saya tentang perdebatan cabang pohon. Konon hidup manusia itu mirip dengan cabang pohon, dia bisa bertambah tergantung kemana kaki melangkah dan tidak akan pernah habisnya.


Bukan hanya pohon yang bertahan, kuda Sumba yang terkenal kuat pun bertahan di puncak gersang ini.




Ciri khas adalah debu dengan mudah menyerang dari segala penjuru. Dan bebatuan terjal dari kejauhan dapat menipu mata, walhasil kita bisa saja terjebak di tengah bebatuan dimana mobil tidak bisa maju ataupun mundur.


Ketika saya mencoba keluar, panas terik ternyata bersahabat dengan kencangnya angin laut. Walhasil angin ini lebih terasa sebagai angin pembawa panas. Mungkin jika dilipatgandakan, beginilah rasanya kena awan panas kalau gunung meletus.




Apapun itu, saya suka Sumba di kala gersang karena lebih memberi arti dalam kesabaran hidup. Jika saya mengeluh kok rasanya malu dengan para penduduk Sumba yang mengalami gersang puluhan tahun, tentu saja masih tanpa kecukupan air dan listrik.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...