Friday, July 22, 2016

Dari Amerika sampai ke Yogya

Saya masih ingat di suatu hari ultah saya -entah yang ke berapa- ketika masih bisa berkumpul bersama adik-adik saya, terceletuk "nanti tahun-tahun ke depan kamu ngucapin ultah pas aku udah dimana, amerika, aussie" dan it was happened (yet). Saya juga masih ingat pernah mendaftar beasiswa kesana dan gagal, hikmahnya saya sekolah yang lain dulu. Kalau dibuka lagi aplikasinya, jadi malu sendiri karena memang belum capable untuk ke Amrik. Pernah juga ngejar international meeting disana tapi belum berhasil juga.

Tapi perlahan tapi pasti, celetukan-celetukan itu menjadi doa dan menemukan jalannya. Ketika foto ini berbicara, saya sudah merasa saya ada di Amerika. Ketika raga saya masih harus berjibaku dengan pasien-pasien di rumah sakit, saya tahu jiwa saya ikut main sampai ke Amerika. Sahabat-sahabat terbaik saya diberikan kesempatan lebih dulu untuk membawa nama saya kesana. Bagi saya itu sudah jauh dari cukup untuk mereasakan Amerika dari dekat.





Kenapa harus Amerika?
Hmmm, hampir semua Menkes pernah belajar ke Amerika. Prof Moeloek pernah belajar di John Hopkins Amerika dan menyusul Bu Endang mencicipi bangku Harvard. Membaca biografi mereka, pengalaman mereka menimba ilmu ke Amerika menjadi pematik semangat saya. Someday, saya akan ke negeri Paman Sam ini. Semoga untuk belajar lagi entah dalam waktu lama atau singkat.


Amerika itu Susah?
Iyaaaks...ngacung kalau ada yang bilang ke Amerika untuk sekolah itu gampang. Dari persyaratan administratif sampai skor TOEFL GMAT GRE dll menjadi daftar panjang yang harus ditembus jika mau sekolah disana. Saya udah lihat sendiri sahabat-sahabat saya yang berhasil menginjakkan kakinya di Amerika dan SURVIVE adalah mereka yang TAHAN BANTING. Kalau abis jatuh...mereka bangun lagi. Ketika mereka bilang lelah...capek...mereka tetap menyelesaikan apa yang telah mereka mulai bahkan memberikan kejutan nilai-nilai TERBAIK. #terharu

"bukan lagi keringet jagung tapi keringet batu"

Dibutuhkan keuletan tingkat dewa untuk bisa bertahan. Dari mereka semua yang di Amerika, saya belajar untuk lebih kuat. Jika mereka semua bisa melewati hal berat di sana, saya juga harus bisa. Dunia kita memang sedang berbeda tapi pada dasarnya semangat menimba ilmu itu sama. Di dunia manapun, ketika niatan kita belajar, berikan yang terbaik yang kita mampu. Paksa diri kita untuk belajar lebih. Jika jatuh...maka bangun lagi. 


Tapi tidak ada yang tidak mungkin, saya yakin itu. Setelah adik dan ipar saya duluan kesana, lalu sahabat saya juga, mudah-mudahan jika urusan "dalam negeri" saya udah kelar, saya bisa main ke sana juga. Kali ini, saya ikut kirim salam saja dari Yogya bareng pasien-pasien imut.







"Mimpi itu lebih dekat dari urat nadi kita sendiri, Wake up!"
(Avis_July 2016)

4 comments:

  1. dan aku highlight yang satu ini: "... SURVIVE adalah mereka yang TAHAN BANTING. Kalau abis jatuh...mereka bangun lagi. Ketika mereka bilang lelah...capek...mereka tetap menyelesaikan apa yang telah mereka mulai bahkan memberikan kejutan nilai-nilai TERBAIK."

    mimpi itu lebih dekat dengan urat nadi. wake up.

    keren ih keren. Semoga anakku sekeren atau bahkan lebih keren dari dirimu.aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. mamanya aja keren kayak mba ade...pasti anak2nya lebih keren lagi. Smoga bisa lolos LPDP ya mba. adekku juga coba dua kali. banyak terkadang yg harus sukses dengan mendalami materi alias ngulang lagi. No worries. Just bout time aja. asal masih terus jalan on the track..dan gk putus asa...inyallah mimpi2 itu tercapai

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...