Friday, September 29, 2017

Bromo: Tiada Pernah Bosan, Selalu Rindu

Tempat ini pernah mememani saya menimba ilmu hidup selama setahun. Rasanya tidak terhitung berapa banyak "naik" gunung bromo, berapa kali menyambangi ranu kumbolo dan hampir mendaki sampai semeru tapi tidak pernah berhasil. Sengaja memang, karena saya hanya suka ranu kumbolo,
Bagi saya, menggelar tenda dan menikmati indahnya taburan ribuan bintang kala malam lalu terbangun karena kedinginan dan ketika membuka tirai tenda sudah disajikan hamparan danau bening, itu lebih dari cukup untuk saya.

Toh pernah dipaksakan karena menemani rekan-rekan bule, saya mentok sampai kalimati, persis di bawah Semeru. Walau Semeru sudah memanggil begitu dekat, saya juga belum ada keinginan untuk sampai puncak. Karena ya itu tadi....keinginan. Yang menggerakkan kita adalah keinginan. Saya yakin saya mampu kalau saya mau mendaki tapi memang saya gak ingin. Saya tidak terlalu suka puncak gunung, bukan murni pendaki yang harus sampai di puncak baru terpuaskan. Saya adalah fotohunter jadi bagi saya, menikmati perjalanan dan dapat mengabadikannya melalui lensa sudah cukup.

Menghirup udara segar Ranu Kumbolo pagi, it was more than enough for me


 gak pernah bosen kalau Ranu Kumbolo karena memang tempatnya menyenangkan 

Hidup adalah pendakian atas segala hal, menaklukkan gunung tertinggi, diri saya sendiri

 Ini bukti bahwa saya memang foto hunter, tidak ada batasan berapa lama saya harus berjalan selagi saya bisa mengambil gambar walau saya akui mata adalah lensa paling sempurna yang tidak pernah dapat tergantikan dengan kamera apapun

Kamu boleh menengok kembali ke belakang atas semua masa lalu tapi cukup ambil hikmah atas semua hal yang pernah terjadi di masa lalu. Jika saat ini kita sudah bisa tertawa ketika menceritakan masa lalu yang menurut kita saat itu tidak menyenangkan, artinya sesuatu itu sebenarnya bukan masalah di waktu kita mengalaminya. Kita sudah berdamai dengan menertawakan masa lalu


Tapi jangan pernah lupa terus berjalan karena masa depan masih menanti. 



 Gunung Batok saudara si gunung Bromo, dia ada begitu dekat tetapi terkadang orang hanya ingin melihat Bromo tanpa memperdulikan si Batok ini memiliki keindahan tak jauh beda

 Bukan seberapa jauh perjalanan yang pernah kita jalani tapi sebenarnya dengan siapa kita melewati itu semua. Semua perjalanan saya naik turun Bromo "entah berapa kali" selalu ditemani dengan sahabat yang berbeda-beda dan juga keluarga. Selalu ada cerita dan jika ditanya gak bosen po naik terus....enggak lah. Kalau bosan, itu artinya hidup kita tak ubah seperti mayat hidup

Oro-Oro Ombo dimana kicauan si Brian temen Amerika saya tidak akan pernah saya lupakan, kalau boleh bermimpi, dia pengin bikin rumah di tempat ini. So sweet 

Dan perjalanan itu memang harus terus dilanjutkan 

 karena saya yakin ada yang menunggu saya di masa depan 

 Para sahabat, keluarga, dan semua orang yang telah berjuang dan mendoakan kita dari jauh


Beban memang akan selalu berat jika dibawa dengan rasa masgul, gondok, sedih tapi ketika kita bisa tersenyum bahkan tertawa karena ada para sahabat dan keluarga yang menguatkan kita, anggap saja beban itu titipan yang sebentar lagi akan hilang karena diambil yang bikin beban

Sebenarnya tim rambo ini punya mimpi ke Raja Ampat pas saya kerja di Papua tapi belum terwujud karena sudah mencar pulang semua ke negara asal walau mereka semua dipertemukan di Singapore

Dan akhir dari perjalanan adalah kita di antara ribuan orang di padang pasir besar adalah seperti butiran debu, tidak terlihat tapi bisa dirasakan kehadirannya kalau masuk mata. Kelilipan hehe


Salam Merindu 
dari Bromo tercinta

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...