Friday, April 28, 2017

Kartini Sejati ala Residen Anak

"Selamat Hari Kartini dok" ucapan dari pasien menyadarkan saya jika ada yang berbeda di hari Jumat, 21 April 2017 ini. Hari Kartini, begitulah hari ini dirayakan.



Adakah yang berbeda dari kami para residen anak? Saya mengamati diri saya dan memang hari ini pakaian yang saya kenakan berbeda dari keseharian.



Saya terus melangkah, membiarkan alam pikiran ini berkelana ke tahun 1879 dimana saat itu Kartini lahir dan menjadi sosok pendombrak fenomenal dunia pendidikan kaum wanita.  Kartini menjadi potret nyata bahwa wanita saat itu hanya berada di tiga tempat "dapur-kasur-sumur" yang artinya wanita bertugas tidak lebih dari membantu kaum lelaki. Perempuan bahkan tidak dapat memberontak ketika dipingit atau dinikahkan menjadi istri (atau selir) entah yang ke berapa. Kartini tampil beda dengan menjadi perempuan yang mempunyai rasa ingin tahu besar akan dunia baca tulis dan membuka jalan untuk perempuan sesudah masanya mendapatkan kesempatan bukan hanya urusan rumah tangga melainkan juga belajar. Sayangnya, usia Kartini hanya sampai 25 tahun dengan misteri kematian yang masih menjadi tanda tanya. Sebuah jihad karena Kartini meninggal seusai melahirkan anaknya, yang beredar dikarenakan preeklampsia, namun tidak ada yang mengetahui pasti karena catatan sejarah terkait persalinannya tidak pernah ada.










Lalu seperti apa sosok para Kartini era sekarang? maknanya menjadi lebih luas. Kaum wanita bebas mau sekolah setinggi apapun tanpa mengorbankan harkatnya sebagai ibu, istri dan pendidik. Saya melihat para konsulan saya dokter spesialis anak, mereka tidak hanya merawat anak-anak mereka sendiri namun juga berbagi ilmu untuk menyehatkan anak-anak lain. Bukan hal mudah tentunya untuk berjuang menjadi spesialis.

Residen anak yang sudah menjadi ibu terbukti menjadi sosok Kartini era kekinian.  Di pagi hari mereka bangun, mereka melepas anak-anak mereka dengan doa semoga selalu dalam keadaan sehat sembari mereka berangkat ke rumah sakit dengan niat menyehatkan anak-anak yang sakit. Sepulangnya dari rumah sakit mungkin matahari sudah tenggelam dan hari mulai gelap, mereka tetap menjadi ibu yang menemani anak-anak mereka sembari menahan mata kantuk karena post jaga.









Mata batin saya berkelana lagi dan di hadapan saya ada banyak Kartini muda, para ibu yang berjuang selalu ada di samping anaknya yang sedang sakit, mereka adalah para Kartini.  Butuh suatu perjuangan untuk bisa berada di sebuah rumah sakit rujukan tertinggi provinsi dan mereka membawa anak mereka untuk mencari pengobatan terbaik. Mereka itu para Kartini, para ibu yang berusaha memerah ASInya, para ibu yang menggenggam tangan anak-anak mereka, para ibu yang bersabar karena mungkin anaknya menjadi korban "pneumonia" dari asap rokok yang dilepas oleh orang-orang yang juga mereka sayangi.  Bagi saya, mereka ini luar biasa. Para ibu pasien itu tidak hanya ikut menunggu anak mereka satu dua hari, tapi kuat bertahan satu-dua minggu bahkan berbulan-bulan. Mereka yang dianugerahi kesabaran luar biasa yang ikut menguatkan anak-anak, itulah bagi saya Kartini-Kartini era sekarang.



Dan jujur....para Kartini itu tidak bisa berdiri sendiri membuat anak-anak mereka sehat tanpa bantuan Kartono (baca suami).

Para sosok Kartono yang rela bersabar mengurus "penjaminan" dari tingkat RT-RW-kelurahan dll agar anak-anak mereka dapat terbantu biaya pengobatannya. Para sosok Kartono yang saya tahu, bukan hal mudah untuk mereka membagi diri mereka di rumah sakit sementara mereka harus tetap bekerja mencari uang. Para Kartono yang selalu menyemangati istri mereka dan membesarkan hati ketika kondisi anaknya drop. Para Kartono yang menemani istrinya melahirkan dan menguatkan ketika bayi yang dilahirkan tidak sesehat yang diharapkan.  Para Kartono yang berada di samping istri-istri mereka, saya ucapkan terima kasih. Sungguh kami para dokter membutuhkan bantuan dan kerja sama dari para suami. Bagi yang masih terbiasa dengan merokok sementara anak mereka berulang kali kumat asmanya atau bayi mereka terkena pneumonia, terima kasih telah berusaha mengurangi batangan rokok dan asap yang dibuang.


Dan inilah saya, bersama teman-teman  memperingati hari Kartini dengan kostum beraneka rupa, Merasakan  sehari menggunakan baju adat sembari melayani pasien.  Baju adat ini hanya simbol tapi makna sejatinya adalah kami semua mungkin tidak akan pernah sampai di titik ini jika dahulu Kartini tidak muncul.  Kartini hanya pembuka jalan, selanjutnya kita yang menentukan sejauh apa jalan ini akan ditempuh. Untuk semua wanita yang berjuang menyelesaikan apapun yang sedang dimulai, kalian adalah para Kartini sejati.


Salam Kartini
Avis

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...