Aku kembali berdetak, kali ini tidak sendiri. Seorang lelaki bersama istrinya di kursi roda ikut mengiringi tugas rutinku berdetak. Tampak wanita berbaju merah duduk berseberangan. Kuperhatikan matanya tak lepas dari jambang dan bulu dada si lelaki. Mungkin dia tadi terkesima melihat ada lelaki berbulu yang setiap hari mau mendorong kursi roda sekadar mencari sinar mentari untuk istrinya. Ah, tapi aku salah sepertinya. Wanita tadi menunggu cemas ketika si lelaki tak lagi datang, padahal hanya terlambat 10 menit dari waktu biasanya, tentu aku ingat karena aku pencatatnya.
Saturday, April 24, 2021
Sunday, April 11, 2021
Begini Seharusnya Plot Twist Kota Kenangan
Kota Kenangan, begitu Mba Wina Bojonegoro membuat cerpen indah dengan twist yang menarik. Saya lancar membacanya, membayangkan dibawa oleh Mb Wina ke Kota Kenangan dengan musim luka, cinta, dan tawa. Musimnya mengingatkan saya akan buku keroyokan pertama saya Cinta, Luka dan Tawa yang baru launching 2021 ini. Siapa mengira cerpen tahun 2014 ini ternyata bisa sampai menelurkan buku yang judulnya sama dengan nama ketiga musim di Kota Kenangan. Kebetulan yang menarik.
Bicara tentang kebetulan, rasa-rasanya petemuan nekad saya mengikuti kompilasi nulis bukanlah suatu kebetulan yang akhirnya membawa saya mengenal Mba Wina lebih jauh. Saya mulai membaca beberapa beberapa seri HIIB (Hidup Ini Indah Beib) yang ditulis dengan Mb Wina sebagai kepala suku. Mba Wina saya nilai sebagai penulis yang menguasai banyak genre, bukan hanya tulisan menye-menye percintaan, tapi juga genre thriller sampai yang lucu juga ada. Rasa-rasanya jika Mba Wina tidak diciptakan di dunia ini, maka kemungkinan besar Padmedia tidak muncul dan buku pertama saya tidak akan pernah ada yang lahir dari otak pikir Mba Wina. Ini juga yang akhirnya membulatkan saya untuk berlatih menulis dengan niatan sungguh-sungguh saat mengambil kelas menulis cerpen.
Friday, March 12, 2021
Resensi:Cinta, Tawa dan Luka (Kisah Inspiratif Dokter Indonesia) "gado-gado banget"
Penulis (25 Dokter Indonesia)
dr. Adityaningrum Purbo Endahpribadi
dr.Anda Marzudinta
drg.Aulia Qizqi Nurdiana
dr. Ayu Nur Ain H, SpKK
dr. Ayu pramitha Wulandari, M.Biomed
dr. Bani Zakiyah
dr. Elta Diah Pasmanasari, SpS, MSi,Med
dr.Hafiidhaturrahmah, MSc,SpA
Dr.dr.Inge W Benjamin, MSi
dr.Marintik Ilahi,SpKJ
dr.Mas’ud Ruga Idris
dr.Mudjiharto, SpAn
dr.Nurul Fathoni, MKes,AAK
dr.Putu Sri Agung Paramita Kelakan S.H
dr. Rosilawati Anggraini
dr.Sak Liung, SpKJ
dr.Stephanie Angela Prijanto
dr.Stephanie Rachel Saimima
dr.Sylvia tanumihardja,SpS
drg.Tania Saskianti,SpKGA (K), PhD
dr.Tarida Lidya Tiarma Ida Manik,SpKK
dr.Tigor Silaban,MKM (Epid)
dr.Willy Kumurur, MPH
drg.Yohannes Dian Indrajati,SpKG
dr.Zhara Vida Zhubika
"Seperti gado-gado, semua bahan dicampur dan hasil akhirnya enak" (kata saya)
Buku wajib untuk yang kepo alias pengin tahu kehidupan di balik jas putih dokter, termasuk untuk para pelajar yang cita-citanya pengin jadi dokter. Pasalnya buku ini berisi paket lengkap dokter berbagai frame, bukan cuma dokter yang sekadar memeriksa "pasien" tapi 25 dokter yang “out of the box”, mau menulis.
Buku terbitan dari Padmedia Publisher ini merupakan ide Wina Bojonegoro selaku CEO untuk mengapresiasi para dokter di tengah pandemi Covid-19. Beliau memberikan ruang untuk para dokter mencurahkan isi hatinya. Akhirnya terkumpul 60 tulisan dokter seantero Indonesia dan diseleksi hanya 25 yang dijadikan buku ini. Buku ini merupakan rangkaian seri dari Hidup Ini Indah Beib (HIIB) Keenam: Kisah-Kisah Inspiratif Dokter Indonesia: Cinta, Tawa, dan Luka.
Saat membaca tulisan para dokter ini saya merasa hanyut karena mereka jujur menyampaikan perasaan termasuk ketika mereka harus menjadi pasien sekaligus. Seperti tulisan drg Aulia Rizki Nurdiana terkait perasaan takut, cemas, panik dan diakhir dengan tangisan tiap malam. Benar memang, menurut saya saat tersulit menjadi dokter adalah ketika harus berdamai dengan dirinya, mengetahui jika ada yang tidak beres pada dirinya dan mencari pertolongan dari orang lain. Pasien berikutnya adalah dr. Ayu Pramitha Wulandari. M.Biomed yang tumbang karena Covid-19, mengisolasi diri 14 hari dan setelahnya harus kembali ke RS melayani pasien. Termasuk perjuangan dr. Zhara Vida Zhubika harus menjadi dokter sekaligus pasien ketika hamil karena anafilaksis juga asma.
Monday, March 8, 2021
Resensi: Algazel, Bayi Tangguhku (Kisah nyata pasienku)
Mama Imtiyaz...begitu saya mengenal wanita muda berkerudung yang anaknya dirawat di salah satu bangsal di rumah sakit tempat saya belajar (baca:masih residen). Nama lengkap pasien itu adalah Imtiyaz Zuhdi Algazel, artinya seorang anak pilihan yang memiliki keistimewaan. Bayi laki-laki tangguh yang menjadi sumber kekuatan bapak ibunya. Kami memang biasa memanggil nama pasien dengan nama depan supaya tidak tertukar satu dengan lainnya. Jadi ada kalanya saya lebih hafal nama pasien dibanding nama orang tuanya. Imtiyaz ternyata punya nama panggilan tersendiri dari orang tuanya, dipanggil Thole atau Algazel.
Pertemuan pertama saya dengan Gazel tentu saja di rumah sakit, ketika dia berulang kali kejang dan berulang kali mondok. Saat itu saya baru saja selesai dari cuti panjang melahirkan dan menyusui (6 bulan) sehingga saat bertemu Gazel, saya punya kesamaan dengan mamanya, sama-sama sedang berjuang memerah ASI. Saat itu saya masih berjaga di bangsal tempat dimana Gazel dirawat, sehingga ASI perah pun saya titipkan di tempat yang sama dengan ASI mama Gazel. Sebagai sesama ibu, kami tidak berbeda, sama-sama berjuang memberikan ASI untuk anak kami.
Friday, February 26, 2021
Waspada Jika Mau Menikah! Resensi "Orang-Orang Larenjang"
Pertama kali membaca cerpen ini, Orang-Orang Larenjang karya Damhuri Muhammad, saya langsung mencari tahu apa itu larenjang. Apa benar ia di adat istiadat kawin sesama suku dari bengkulu? Karena jujur saja asli bengkulu (dari turunan mama) tapi saya belum pernah dengar. Yang saya tahu memang ada suku "Rejang" tapi bukan larenjang. Penasaran.
Damhuri menceritakan dengan bahasa yang "unik", padu padan yang bagi orang awam jarang didengar. Contoh saja kata pembukanya "luaskan gunjing, asung, dan pitanah". Saya malah belum pernah memakai kata itu dalam keseharian.
Cerpen ini diolah dengan research mendalam, terbukti Damhuri dapat menceritakan dengan detail setup tokohnya multi dari penghulu Bendara Gemuk, Julfahri, Nurhusni dan warga desa yang tidak setuju mereka menikah. Detail tentang tradisi mendarah daging kawin sesama suku pun terasa kental.
Kegalauan pihak ketiga akan terjadinya kawin sesama suku diceritakan dengan ciamik, plot berubah dari satu pemain ke pemain berikutnya dengan bagus. Sayangnya memang seakan penulis menggiring adat istiadat yang dilanggar pasti akan berujung pada petaka.
Yah, di akhir kita bisa mendapatkan twist bahwa si lelaki yang menikahi wanita sesama suku itu setelah punya dua anak, harus mengalami berbagai kesedihan ditinggal mati kedua anaknya bahkan sampai istrinya. Padahal saya berharap twist yang sedikit melenceng, karena butuh usaha kuat untuk berani diusir dari desa dan merantau selamanya. Jadi harapan saya, tradisi itu tidak sekejam itu, atau bahkan pada kenyataannya lebih kejam?
Silakan baca sendiri cerpen yang sudah sering menjadi ulasan di dunia maya ini :)
salam literasi
Avis
#KelasMenulisPadmedia #Batch4
Saturday, February 13, 2021
Kanker Anak: Harapan Tak Pernah Padam
Aku mengerti perjalanan hidup yang kini kau laluiKu berharap meski berat, kau tak merasa sendiriKau telah berjuang menaklukkan hari-harimu yang tak mudahBiar ku menemanimu membasuh lelahmuIzinkan kulukis senja mengukir namamu di sanaMendengar kamu bercerita menangis, tertawaBiar kulukis malam bawa kamu bintang-bintangTuk temanimu yang terluka hingga kau bahagiaAku di sini walau letih, coba lagi, jangan berhentiKu berharap meski berat, kau tak merasa sendiriKau telah berjuang menaklukkan hari-harimu yang tak indahBiar ku menemanimu membasuh lelahmuIzinkan kulukis senja mengukir namamu di sanaMendengar kamu bercerita menangis, tertawaBiar kulukis malam...bawa kamu…


