Saturday, September 30, 2017

Memberikan yang Terbaik, Itulah Balas Jasa Kami untuk Guru Kami

Memberikan yang TERBAIK, itulah kami.

Darai awal kami masuk, kami menjalani berbagai rangkaian ujian yang tidak mudah. Ujian bahkan sudah dimulai dari sebelum kami memutuskan untuk memilih UGM.  Hingga tahap demi tahap ujian tulis, jurnal, kesehatan, anamnesis,pemeriksaan fisik dan wawancara terlampai dan nama kami berada di sana, yah di Pengumuman Kelulusan Residen Baru.


dr.Riyu dan dr.Nadia masuk dalam peringkat lima besar Ujian Nasional 2017

Friday, September 29, 2017

Bromo: Tiada Pernah Bosan, Selalu Rindu

Tempat ini pernah mememani saya menimba ilmu hidup selama setahun. Rasanya tidak terhitung berapa banyak "naik" gunung bromo, berapa kali menyambangi ranu kumbolo dan hampir mendaki sampai semeru tapi tidak pernah berhasil. Sengaja memang, karena saya hanya suka ranu kumbolo,
Bagi saya, menggelar tenda dan menikmati indahnya taburan ribuan bintang kala malam lalu terbangun karena kedinginan dan ketika membuka tirai tenda sudah disajikan hamparan danau bening, itu lebih dari cukup untuk saya.

Toh pernah dipaksakan karena menemani rekan-rekan bule, saya mentok sampai kalimati, persis di bawah Semeru. Walau Semeru sudah memanggil begitu dekat, saya juga belum ada keinginan untuk sampai puncak. Karena ya itu tadi....keinginan. Yang menggerakkan kita adalah keinginan. Saya yakin saya mampu kalau saya mau mendaki tapi memang saya gak ingin. Saya tidak terlalu suka puncak gunung, bukan murni pendaki yang harus sampai di puncak baru terpuaskan. Saya adalah fotohunter jadi bagi saya, menikmati perjalanan dan dapat mengabadikannya melalui lensa sudah cukup.

Menghirup udara segar Ranu Kumbolo pagi, it was more than enough for me

Wednesday, September 20, 2017

Awalnya Dibully, Gadis 8 Tahun ini Sekarang Terbitkan Jurnal Internasional



Sophia Spencer, gadis usia 8 tahun ini ramai diperbincangkan oleh kalangan entomology setelah mamanya, Nicole Spencer mengirimkan email kepada ESC (Entomological Society of Canada) terkait hobi anaknya yang nyleneh.

Apa sih hobi Sophia ini?
Nah, gadis manis ini sering kali dibully teman SDnya karena hobi dia bermain dengan serangga. Yup, serangga cin….belalang kupu-kupu semacamnya. Bahkan Sophia juga menyukai serangga tipe mirip-mirip ulat bulu gitu. Sophia bahkan memotong rambutnya menjadi pendek agar tidak menghalanginya bermain dengan serangga saking cintanya kepada serangga. Kecintaan Sophia ini dirasa aneh oleh teman sekolahnya sehingga tidak heran dia sering kali dibully karena hobinya bermain serangga ini. Karena sering dibully itulah Sophia merasa minder dan orang tuanya meminta dukungan kepada ahli entomolog yang memang berkecimpung dalam bidang dunia serangga. Si Mama tidak tinggal diam.

 Hasil gambar untuk sophia spencer
gambar dari sini
 
Setelah email resmi dilayangkan kepada perkumpulan dunia, maka menyebarlah pesan beruntun yang pertama kali dikirimkan oleh twitter remi Perhimpunan Entomolog Canada @CanEntomogist. Hobi Sophia ternyata bukan hal aneh loh, terbukti dari banyaknya pesan bertagar #BugsR4Girls sebagai bentuk dukungan kepada Sophia. 

Hasil gambar untuk sophia spencer tweetgambar dari sini

Beberapa entomology bahkan tidak sungkan mengajak Sophia bermain di laboratoriumnya untuk melihat aneka rupa serangga, mengirimi Sophia buku bertema serangga sampai berkenalan secara pribadi kepada Sophia. Tidak tanggung-tanggung, gerakan dukungan melalui twitter yang ramai di era tahun 2016 ini menjadi cikal bakal Sophia sebagai co-author jurnal internasional bersama Morgan Jackson, seorang entomology ternama.
So, punya ponakan atau anak-anak di sekitar kamu yang hobi dengan hal-hal unik, please jangan dibully dulu yak. Bisa jadi nantinya mereka itulah yang akan menjadi peneliti bahkan ilmuwan terkait hal yang mereka sukai.


Hasil gambar untuk sophia spencer 
Bersama Mamanya Nicole Spencer (gambar dari sini)
 
Nah buat para mommy yang lagi down ngerasa anaknya aneh, please mommy adalah orang pertama dan terdekat dengan anak yang menjadi pendukung pertama anak. Jadi mommy lah yang nantinya akan menentukan anaknya akan terus dibully ato malah anaknya menyukai bidang yang sesuai dengan hobinya.

Salam Anti Bully
dr.Avis

Tuesday, September 19, 2017

Cegah Kanker Serviks Lebih Dini, Yuk Ajak Anak Anda Imunisasi HPV

Apa itu Kanker Serviks
Siapa sih yang gak kenal artis Julia Peres alias Jupe yang didiagnosis dokter mengalami kanker serviks. Nah, kali ini kita akan membahas bagaimana cara mencegah kanker serviks dengan imunisasi. 

Kanker serviks merupakan kanker di area leher rahim dimana pada tahap awal biasanya tidak bergejala. Namun jika mulai berkembang, kanker serviks mulai mengeluarkan gejala antara lain berdarah setiap selesai berhubungan seks atau perdarahan di luar jadwal menstruasi. Untuk memastikannya, harus dilakukan pemeriksaan IVA. Nah, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyerang 330.000 wanita, ditunjang data dari WHO dimana 2 dari 10.000 wanita di Indonesia menderita kanker cerviks dan diperkirakan 26 wanita meninggal setiap harinya karena kanker cerviks. Untuk mencegah kanker serviks, salah satunya adalah dengan pemberian imunisasi HPV. 


Gambar terkait


Thursday, September 7, 2017

Serius Mau Sekolah Lagi Jadi Dokter Spesialis, Hadapi 3 Hal Ini Dulu

"Serius mau sekolah lagi?" ini pertanyaan pertama yang biasanya saya dengar ketika awalan saya mengutarakan niat untuk mendaftar jadi residen


"Serius mau sekolah?
"Serius mau hidup susah?"
"Berat hidupnya loh"
"Gak digaji loh"
"Kudu punya duit banyak"
"Duh ntar makin jarang kumpul keluarga"
"Alah wis tua...udah gini aja gak usah neko-neko"
"Suwi...sekolahnya lama. Minimal 4 tahun, kalo lulus cepet"


Dan pastinya komen-komen berikutnya lebih kejam lagi. Coba ingat-ingat kembali ketika anda mengutarakan niatan itu kepada (siapapun). Saya pastikan 80% komentar di atas akan didapatkan dan hanya sedikit yang akan bilang begini 

"Semoga sukses ya"


Thursday, June 15, 2017

Finally, ini dia Residen Anak UGM Periode Juli 2017

Selamat untuk yang akhirnya berhasil diterima sebagai Residen Anak UGM periode Juli 2017. Akhirnya pengumuman juga kan. Konon sebagai residen anak hanya dua kali gegap gempita terjadi yaitu saat pengumuman keterima sebagai residen dan yang kedua saat lulus ujian akhir. Selebihnya, tetes-tetes air mata akan banyak menggenang. Tapi seru kok karena banyak temennya. 

So, tips sebelum masuk PPDS bagi yang namanya tercantum di bawah ini adalah BERLEYEH-LEYEH dan BERBAHAGIALAH bersama family ato teman-teman terbaik karena mungkin setelahnya akan sangat jarang waktu untuk melakukan hal-hal itu. 


SELAMAT untuk 12 rekan sejawat yang lolos dan berhasil di terima di Residensi Anak UGM Periode Masuk JULI 2017. Rasanya pasti luar biasa, gabungan antara bahagia,deg-degan dan juga sedih. Apapun rasanya, selamat sekali lagi karena berhasil diterima di PPDS Anak UGM. Penguman lengkapnya di sini

Siapa saja 15 orang yang beruntung kali ini, check it dot:   

Friday, April 28, 2017

Kartini Sejati ala Residen Anak

"Selamat Hari Kartini dok" ucapan dari pasien menyadarkan saya jika ada yang berbeda di hari Jumat, 21 April 2017 ini. Hari Kartini, begitulah hari ini dirayakan.



Adakah yang berbeda dari kami para residen anak? Saya mengamati diri saya dan memang hari ini pakaian yang saya kenakan berbeda dari keseharian.

Saturday, January 28, 2017

Suka Duka Jadi Residen, Dokter yang Sekolah Lagi

Tulisan ini sebenarnya sudah lama ingin dibuat tetapi (again) karena mengalami beberapa hambatan, tulisan ini baru bisa muncul sekarang. Kenapa sekarang? well, jujur saat menulis ini kondisi fisik lagi ada di titik drop, minum obat, bolak balik cek suhu badan sendiri, dan juga mencuri sedikit tidur sampai akhirnya menulis kembali (blog ini). So, maafkan jika tulisan ini terkesan mellow.

Saya coba tuk flashback ketika saya masih berada di luar Jawa dan mimpi untuk sekolah lagi itu muncul karena ada LPDP yang memfasilitasi dan kebetulan menjadi angkatan pertama dokter spesialis LPDP. Dan tidak terasa sudah hampir dua tahun (separuh jalan) menjalani dunia residensi ini. Suka duka pasti banyak. dan foto ketika saya masih di dunia lain ini seakan menyadarkan langkah kaki kita sedikit lagi sampai di finish line. Ini berguna sekali sebagai booster karena di luar sana masih banyak yang "rebutan" ingin berada di posisi kami residen tetapi belum berjodoh.

Resolusi yang terwujud, masuk PPDS Anak pada Juli 2015

Para dokter residen LPDP Angkatan Pertama di PK21. Semuanya saya tahu sedang mengejar mimpi, menyelesaikan apa yang pernah kita mulai sampai titik darah penghabisan (#heroik)


Just Resident  
Di luar dunia residensi, mungkin orang awam memandang kami menjalani kehidupan yang nantinya akan jadi "enak" karena katanya setelah menjadi spesialis akan jauh lebih baik dibanding dokter biasa. Sayangnya itu semua tidak benar. Menjalani dunia residensi dibutuhkan bukan saja fisik, materi melainkan jiwa. Iyak, yang terakhir menurut saya yang paling penting.

1. Menjadi residen membutuhkan jiwa untuk ikhlas menerima. Sederhana tetapi penting. Karena pastinya akan ada banyak yang dikorbankan. Terkadang hal-hal kecil yang tidak terasa itu baru kita sadari keberadaannya ketika kita sedang dalam perenungan. Kemana saja saya selama ini, tahu-tahu yang sudah punya anak, anaknya tumbuh besar, atau tahu-tahu orang tua terlihat semakin menua, saudara saudari mungkin sudah menikah sampai punya anak. Atau perkembangan dunia di luar residensi yang terkadang baru nggeh ketika pasien berbagi cerita.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...