Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Saturday, November 13, 2021

Mercusuar ala Masdhar

Bagi yang menyukai karya dengan personifikasi, maka cerpen-cerpen Masdhar Zainal wajib dibaca. 

Salah satunya dengan Anak Mercusuar. Pembaca bebas menafsirkan cerita dari sudut pandang berbeda. Misalnya saja kisah mercusuar ini boleh diartikan harfiah akan kekejaman manusia mengambil hasil laut atau boleh juga diartikan hubungan anak yang mengidolakan ayahnya. Padahal boleh jadi ayahnya itu bukan ayah biologis, tetapi ayahnyalah yang mengasuh dan menyelamatkan si anak sejak kecil. Apalah artinya simbol biologis jika kehadiran dan perhatian lebih penting dan dapat membuat anak lebih membutuhkan kehadirannya daripada kebiologisannya. 

"Karena ayah adalah mercusuar. Dan sebuah mercusuar harus menyepakati dua sumpah, yang pertama ia harus teguh berdiri di tempat yang ditentukan, dan kedua ia tidak boleh memejamkan mata di waktu malam"

Para pecinta untaian kata yang memukai, cerpen Masdhar ini selalu membelai sambil menampar lembut hati nurani. Cocok dijadikan camilan malam hari, tengok juga beberapa cerpen unik Masdhar lainnya. 


#KelasMenulisCerpenPadmedia

#Batch6

Sunday, November 7, 2021

Resensi Buku: Bagaimana Ngajarin Anak Kalau Bapak Ibunya "Sekolah"?

Bagi yang pernah berjuang di bangku “kuliah” sambil hamil, melahirkan, menyusui pasti bisa menjawab pertanyaan di atas. Jelas saja, anak yang tumbuh dalam rahim mamanya yang sedang menuntut ilmu akan terbiasa dengan belajar sepanjang hayat.  Buku parenting tulisan Ario Muhammad ini melukiskan jawaban dari pertanyaan di atas, bedanya kedua orang tua si anak sedang belajar di bangku S3 di UK. 



Sebelumnya, saya angkat topi kepada para PhD yang telah berhasil melalui segala aral melintang dunia doctoral yang pastinya tidak mudah. Saya sudah menjalani 4-5 tahun dunia residensi, spesialiasi sekaligus S2 bersamaan di universitas dalam negeri.  Saya mengakui S3 di luar negeri membutuhkan mental baja. Perut saya sering mulas ketika melihat rekan saya yang sedang S3 berjibaku dengan tumpukan paper.  Keingingan untuk bisa terus belajar sampai di tingkat PhD masih saya pupuk sebagai bentuk belajar sepanjang hayat.  

Friday, November 5, 2021

Lahiran Lagi Saat Covad-Covid




Wah dokter hamil lagi ya
Wah kapan lahiran lagi, Dok?
Wah seru ya kalau Salma punya adek
Pasti nanti anak keduanya kriwil juga 

Baiklah, pertanyaan di atas saya amini dulu. Saat ini biarkan saya bersayang-sayangan bersama anak semata wayang sambil menikmati proses lahiran yang menyenangkan. 

Friday, July 2, 2021

Kesendirian

Apa yang bisa membunuh orang secara perlahan

Kesendirian...yah itu jawabannya


Ya hidup tanpa ada yang menemani, tanpa ada anak di samping kanan kiri, tanpa ada seseorang yang mendengarkan keluh kesah. Kesendirian itu akan membunuhl, pelan tapi pasti. Bahkan banyaknya harta yang terkumpul tidak akan mampu mengobati kesendirian itu. 


Begitulah, Mba Wina memulai cerpen Pengakuan Rusmini, menceritakan kesendirian dari sosok wanita sukses. Tentu saja bisa dikatakan sukses jika dia berhasil melahirkan 3 anak yang hidup sukses bukan


Namun, hidup ditemani kucing dan hanya sesekali anak cucunya datang menjenguk, jelas itu membosankan untuk wanita yang menginjak usia 67 tahun. Bahkan setelah semua hidup di masa lalunya dia gunakan untuk membesarkan anak-anaknya dan membuat mereka menjadi "orang", apa yang dia dapat sekarang. Anaknya sudah sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, dan hanya beberapa kali dalam setahun mereka ingat keberadaan ibu tua mereka ini. Mau apalagi?


Benar kata pepatah, kasih ibu sepanjang masa namun apalah dibandingkan kasih anak yang sepenggalan. Ketika mereka punya kehidupan sendiri-sendiri tentu saja mereka akan mengutamakan keluarga mereka dibandingkan ibu, orang yang melahirkan mereka dulu


Dan tentu saja seperti khas dari gaya menulis Mba Wina, cerpen ini penuh misteri termasuk siapa sebenarnya ayah kandung dari ketiga anak Rusmini. Plot twist yang mendebarkan seperti biasa. Namun, hal utama yang membuat saya meringis tentu saja kesendirian itu, apakah ada jaminan ketika saya menua nanti, anak-anak saya akan mengingat saja, mengusir kesendirian itu sendiri. 


#Batch5PadMedia

#MenulisCerpen

Monday, March 8, 2021

Resensi: Algazel, Bayi Tangguhku (Kisah nyata pasienku)

Mama Imtiyaz...begitu saya mengenal wanita muda berkerudung yang anaknya dirawat di salah satu bangsal di rumah sakit tempat saya belajar (baca:masih residen). Nama lengkap pasien itu adalah Imtiyaz Zuhdi Algazel, artinya seorang anak pilihan yang memiliki keistimewaan.  Bayi laki-laki tangguh yang menjadi sumber kekuatan bapak ibunya. Kami memang biasa memanggil nama pasien dengan nama depan supaya tidak tertukar satu dengan lainnya. Jadi ada kalanya saya lebih hafal nama pasien dibanding nama orang tuanya. Imtiyaz ternyata punya nama panggilan tersendiri dari orang tuanya, dipanggil Thole atau Algazel. 


Buku ajaib yang ditulis oleh mama hebat, bercerita tentang anak tangguh!

Pertemuan pertama saya dengan Gazel tentu saja di rumah sakit, ketika dia berulang kali kejang dan berulang kali mondok.  Saat itu saya baru saja selesai dari cuti panjang melahirkan dan menyusui (6 bulan) sehingga saat bertemu Gazel, saya punya kesamaan dengan mamanya, sama-sama sedang berjuang memerah ASI.  Saat itu saya masih berjaga di bangsal tempat dimana Gazel dirawat, sehingga ASI perah pun saya titipkan di tempat yang sama dengan ASI mama Gazel. Sebagai sesama ibu, kami tidak berbeda, sama-sama berjuang memberikan ASI untuk anak kami.  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...