Saturday, February 13, 2021

Kanker Anak: Harapan Tak Pernah Padam



Aku mengerti perjalanan hidup yang kini kau lalui
Ku berharap meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang menaklukkan hari-harimu yang tak mudah
Biar ku menemanimu membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita menangis, tertawa
Biar kulukis malam bawa kamu bintang-bintang
Tuk temanimu yang terluka hingga kau bahagia
Aku di sini walau letih, coba lagi, jangan berhenti
Ku berharap meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang menaklukkan hari-harimu yang tak indah
Biar ku menemanimu membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita menangis, tertawa
Biar kulukis malam...bawa kamu

 


Hari ini saya cengeng lantaran berulang kali memutar lagu melukis senja yang dinyanyikan ulang oleh Kefas Zebua (saudara Mba Tabita 💕💕💕). Lagu mendayu penuh semangat yang ditujukan untuk pasien kanker yang berlatar belakang rumah sakit Sardjito Yogyakarta ini jelas mengingatkan saya pada mereka para pejuang kanker. Bukan hanya pasien yang berjuang namun juga keluarga besarnya. 

Jujur tiap kali harus menjelaskan penyakit kanker pada orang tua, saya selalu tidak dapat menjawab pertanyaan mereka. 

"Kok bisa anak saya kena kanker? "
"Kenapa harus anak saya? "
"Kok bisa padahal anak saya sehat sebelumnya"

Itu pertanyaan yang membutuhkan jawaban sulit, karena dengan semua teori terjadinya kanker, tetap sulit menjelaskan kenapa anak anda yang terkena. Kanker bisa mengenai siapa saja termasuk anak-anak, tidak mengenal usia (0-18 tahun), tidak mengenal kaya atau miskin. Bahkan anak yang dari awal tidak ada masalah alias sehat bisa mulai muncul gejala. Awalnya pun bisa dikira penyakit lain sebelum akhirnya menjurus ke kanker. Biasanya anak menglami keluhan mulai terlihat pucat karena anemia, perdarahan berulang seperti mimisan atau mudah lebam biru, benjolan yang membesar di bagian tubuh tertentu, dan berat badan turun. Jenis kanker pun banyak sekali mulai dari kanker darah seperti leukemia sampai kanker yang ada pembesaran anggota tubuh tertentu misal retinoblastoma yang mana muncul benjolan di mata. 


Penegakan diagnosis kanker pun butuh waktu karena harus pasti jenis kankernya supaya terapi yang diberikan bisa tepat.  Bukan pengobatan yang sehari dua hari selesai, pasien kanker harus rela tiap minggu diberikan kemoterapi dan kontrol rutin sampai beberapa tahun. Semuanya sungguh bukan hal mudah. Dibutuhkan dukungan penuh dari keluarga, terutama sosok ibu luar biasa di belakang perjuangan anak-anak kanker. Ayah yang ikut menemani, terpaksa meninggalkan pekerjaan hariannya atau malah keluar dari pekerjaannya. Demi melihat buah hatinya kembali sehat....tersenyum indah kembali.


Satu persatu nama para pasien yang pernah saya temui kembali terlintas di kepala saya. Para ibu hebat yang rela melintasi jarak puluhan kilometer untuk menuju yogyakarta. Mereka ada yang dari daerah Barlingmascakep (Banyumasan, Purbalingga, Cilacap) dan sekitarnya seperi Brebes, Bumiayu, Majenang sampai paling jauh pernah saya dapatkan dari Kalimantan. 


Bersyukur ada banyak rumah singgah yang membantu di Yogyakarta sehingga pasien dan keluarganya bisa sekadar berteduh sambil menunggu jadwal kemoterapi berikutnya. Terima kasih untuk mb Olla untuk rumah singgah JAGOAN, juga mb Septi nutuk rumah singgah BUAH HATI.  

Harapan Tak Pernah Padam

Pembeda dari pejuang kanker dengan penyakit lainnya adalah "HOPE". Yah, harapan yang tak pernah padam. Saya melihat itu dari mata para ibu yang menemani anaknya kemoterapi setiap minggu. Boleh jadi minggu ini efek samping kemonya tidak terlalu berat namun ada waktu dimana bisa didapatkan efek samping yang berat seperti anak sulit makan, muntah, rontok rambutnya ataupun daya tahan tubuhnya menurun. Karena hal inilah anak kanker harus dijaga dengan sangat hati-hati dari lingkungan sekitarnya lantaran daya imunitasnya sedang turun, lebih mudah sakit hebat jika terkena batuk pilek biasa atau diare. Para ibu biasanya jadi lebih protektif, dan hal itu sangatlah wajar. 

Mata para ibu ini jelas menggambarkan lelah yang tidak boleh ditampakkan di depan anak. Menangis ketika di belakang anak. Mata hebat mereka adalah mata penuh harapan yang tak pernah padam.  




Bersama para ibu hebat yang tak kenal lelah (Mama Nuha dan Mama Azel)


Ah, saya kembali cengeng.  Saat sekolah dulu biasanya kita dapat kesempatan belajar tentang kanker anak selama sebulan penuh sebanyak tiga kali. Terakhir saat saya di bangsal kanker anak adalah ketika tingkat senior dan saya sudar melahirkan anak saya. Salma namanya yang kesehariannya menemani saya ke rumah sakit. Di pagi hari saya biasanya menitipkan Salma di daycare dalam rumah sakit (saat itu belum pandemi) dan sorenya saya ambil kembali lalu pulang bersama ðŸ’ªðŸ’ªðŸ’ª.


Terima kasih Salma, sudah menemani mommy sekolah


Kebersamaan dengan para ibu pasien membuat saya belajar banyak. Ini adalah kesabaran tanpa batas. Sungguh tidak semua dapat melaluinya namun para ibu hebat itu bisa. Saya ingin berterima kasih karena pernah bertemu ibu hebat dari anak-anak ini, mama Zalva, Azel, Arif, Nuha, Wahyu, Izza, Freya, Raihan, Riana, Fitri dan masih banyak lagi. Beberapa diantaranya telah meninggalkan kami lebih dahulu namun saya yakin nama mereka terus terukir. Perjuangan bersama mereka pasti tidak akan pernah dapat dilupakan. Para ibu hebat yang sampai saat ini masih memberikan semangat untuk ibu lain yang baru menata hati ketika mendengar diagnosis dokter jika anaknya terkena kanker.


Arif dan Izza punya bakat mewarnai luar biasa



Bersama almarhum Arif sebelum pandemi datang

Mama Najwa dan Kak Anam bersama Navis Idol Cilik


Bersama Priskilla yang selalu bersemangat

Jangan pernah padamkan doa dan harapan. Kami para tenaga kesehatan pun berjuang maksimal. Allah tidak melihat hasil akhir namun perjuangan penuh ikhtiar ini saya yakin berganjar banyak pahala sabar. Terima kasih untuk para Profesor dan dokter spesialis anak khusus hematologi (Prof Dr. dr. Sutaryo, SpA(K), Dr. dr. Sri Mulatsih, SpA(K), dr. Pudjo Hagung Widjajanto, SpA(K), Ph.D, dr. Eddy Supriyadi, SpA(K),Ph.D, dr. Bambang Ardianto, MSc,Ph.D, dr. Alexandra W.S.Pangarso, MSc, SpA). Doa kami semoga sehat selalu di masa pandemi ini. Untuk Mas Pur, para perawat hebat di bangsal kanker anak Estella, poli anak di Tulip, juga para rekan dokter residen, sehat selalu.

Salam rindu
Avis

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...